ican26.blogspot.com

Pecundang Sejati Comunity

Kita Tidak Miskin



"Apakah kemiskinan itu, Bu? Anak-anak di taman bilang kita miskin. Benarkah itu, Bu?"

"Tidak, kita tidak miskin, Aiko"

"Apakah kemiskinan itu?"

"Miskin berarti tidak mempunyai sesuatu apapun untuk diberikan kepada orang lain."

"Oh? Tapi kita memerlukan semua barang yang kita punyai, apakah yang dapat kita berikan?"

"Kau ingatkah perempuan pedagang keliling yang ke sini minggu lalu? Kita memberinya sebagian dari makanan kita kepadanya. Karena ia tidak mendapat tempat menginap kota, ia kembali ke sini dan kita memberinya tempat tidur."

"Kita menjadi bersempit-sempitan"

"Dan kita sering memberikan sebagian dari sayuran kita kepada keluarga Watari, bukan?"

"Ibulah yang memberinya. Hanya saya sendiri yang miskin. Saya tak punya apa-apa untuk saya berikan kepada orang lain."

"Oh, kau punya. Setiap orang mempunyai sesuatu untuk diberikan kepada orang lain. Pikirkanlah hal itu dan kau akan menemukan sesuatu."

"Bu! Saya mempunyai sesuatu untuk saya berikan. Saya dapat memberikan cerita-cerita saya kepada teman-teman saya. Saya dapat memberikan kepada mereka cerita-cerita dongeng yang saya dengar dan baca di sekolah. Juga cerita-cerita Alkitab dari Sekolah Minggu."

"Tentu! Kau pintar bercerita. Bapakmu juga. Setiap orang senang mendengar cerita."

"Saya akan memberikan cerita kepada mereka, sekarang ini juga!"

[ Disadur dari Audrey McKim: Aiko and Her Cousin Kenichi, terjemahan: Kita Tidak Miskin, YKBK/OMF - sebuah buku cerita ringan yang inspiratif]

Renungkan Sejenak

  • Renungkan Sejenak

    "Hendaknya kita mengukur ilmu bukan dari tumpukan buku yang kita habiskan. Bukan dari tumpukan naskah yang kita hasilkan. Bukan juga dari penatnya mulut dalam diskusi tak putus yang kita jalani. Tapi...dari amal yang keluar dari setiap desah nafas kita".(Ibnul Qoyyim Al-Jauziyyah).

Sengaja Apa Sengaja


ISLAM MENGUTUK TERORISME

Dokter Mulia

 
Suatu ketika ada seorang dokter yang mendirikan klinik gratis untuk mereka yang tidak mampu. 
Suatu hari, ada orang menghambur ke dalam klinik itu dengan membawa berita bahwa putra bungsu dan kesayangan sang dokter baru saja meninggal. 
Meski sangat perih hatinya, sang dokter berpikir sejenak, dan setelah tenang kembali ia memutuskan untuk terus melayani pasiennya.

Orang-orang yang kemudian mengetahui kejadian ini, agak kaget dengan sikapnya yang tidak begitu peduli itu. Ketika ditanya, ia menjawab, "Putraku telah mati, aku tidak dapat berbuat apa-apa soal itu. Tapi orang-orang ini yang bahkan tidak mampu untuk membayar, memerlukan pertolonganku.
Aku tahu aku bisa berbuat sesuatu untuk mereka. Tidakkah lebih baik jika aku mengatasi rasa sedihku dan tetap membantu mereka yang berada dalam kesusahan ini?"

Jadilah Seperti Pensil

Seorang anak bertanya kepada neneknya yang sedang menulis sebuah surat.
“Nenek lagi menulis tentang pengalaman kita ya? atau tentang aku?”
Mendengar pertanyaan si cucu, sang nenek berhenti menulis dan berkata kepada cucunya,
“Sebenarnya nenek sedang menulis tentang kamu, tapi ada yang lebih penting dari isi tulisan ini yaitu PENSIL yang nenek pakai. Nenek harap kamu bakal seperti pensil ini ketika kamu besar nanti”, ujar si nenek lagi.
Mendengar jawaban ini, si cucu kemudian melihat pensilnya dan bertanya kembali kepada si nenek ketika dia melihat tidak ada yang istimewa dari pensil yang nenek pakai.
“Tapi nek, sepertinya pensil itu sama saja dengan pensil yang lainnya”, Ujar si cucu.
Si nenek kemudian menjawab,
“Itu semua tergantung bagaimana kamu melihat pensil ini. Pensil ini mempunyai 5 kualitas yang bisa membuatmu selalu tenang dalam menjalani hidup, kalau kamu selalu memegang prinsip-prinsip itu di dalam hidup ini”,
Si nenek kemudian menjelaskan 5 kualitas dari sebuah pensil.
Pertama:
Pensil mengingatkan kamu kalau kamu bisa berbuat hal yang hebat dalam hidup ini. Layaknya sebuah pensil ketika menulis, kamu jangan pernah lupa kalau ada tangan yang selalu membimbing langkah kamu dalam hidup ini. Kita menyebutnya Allah, Dia akan selalu membimbing kita menurut kehendakNya”.
Kedua:
Dalam proses menulis, nenek kadang beberapa kali harus berhenti dan menggunakan rautan untuk menajamkan kembali pensil nenek. Rautan ini pasti akan membuat si pensil menderita. Tapi setelah proses meraut selesai, si pensil akan mendapatkan ketajamannya kembali. Begitu juga dengan kamu, dalam hidup ini kamu harus berani menerima penderitaan dan kesusahan, karena merekalah yang akan membuatmu menjadi orang yang lebih baik”.
Ketiga:
Pensil selalu memberikan kita kesempatan untuk mempergunakan penghapus, untuk memperbaiki kata-kata yang salah. Oleh karena itu memperbaiki kesalahan kita dalam hidup ini, bukanlah hal yang jelek. Itu bisa membantu kita untuk tetap berada pada jalan yang benar”.
Keempat:
Bagian yang paling penting dari sebuah pensil bukanlah bagian luarnya, melainkan arang yang ada di dalam sebuah pensil. Oleh sebab itu, selalulah hati-hati dan menyadari hal-hal di dalam dirimu”.
Kelima:
Sebuah pensil selalu meninggalkan tanda/goresan…Seperti juga kamu, kamu harus sadar kalau apapun yang kamu perbuat dalam hidup ini akan tinggalkan kesan. Oleh karena itu selalulah hati-hati dan sadar terhadap semua tindakan”

sumber : http://b2htiardpdpsw.wordpress.com/2010/06/29/jadilah-seperti-pensil/

Teori Konspirasi Dajjal bag 1